Info Sekolah
Rabu, 19 Jun 2024
  • ||SMA UII Yogyakarta School of Tahfizh, Research and Entrepreneurship|| ||Penerimaan Peserta Didik Baru Gelombang 2Klik disini||
  • ||SMA UII Yogyakarta School of Tahfizh, Research and Entrepreneurship|| ||Penerimaan Peserta Didik Baru Gelombang 2Klik disini||
2 Februari 2024

Mengapa Kita Harus Belajar? (bagian 2)

Jum, 2 Februari 2024 Dibaca 679x

Chaamid Nur Fajri

“Artinya: Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan (ilmu) beberapa derajat.” (Al-Mujadalah:11)

Allah swt. telah berjanji kepada setiap manusia bahwa Dia akan meninggikan derajat (memuliakan) setiap manusia yang beriman dan berilmu. Iman yang terpatri di dalam hati tidak cukup menjadikan manusia itu mulia tanpa dibarengi dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Sebaliknya, ilmu setinggi apapun yang dimiliki oleh manusia maka tidak pula mengantarkan manusia kepada kemuliaan di hadapan Allah swt.

Hari ini, diri kita telah mengaku beriman, maka jika kita berkeinginan memiliki derajat yang mulia, masih tersisa pekerjaan untuk dapat melengkapi dengan ilmu. Lagi pula Sejarah telah membuktikan bagaimana gilang-gemilangnya peradaban Islam ketika pada masanya banyak lahir ilmuwan muslim yang mampu memecahkan kebuntuan manusia. Ilmuwan semacam Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, dll. Mampu membuat hal yang tadinya menjaid titik gelap manusia menjadi terang benderang dengan ilmu pengetahuan.

Ibnu sina umpamanya, tampa teori kedokteran beliau, barangkali dunia kedokteran tidak seperti sekarang atau Al-Khawarizmi yang mampu meneorikan tentang al-jabar yang sangat bermnafaat dalam kehidupan manusia. Beliau juga yang mengenalkan konsep angka nol sehingga manusia bisa memiliki aknga kuantitatif yang tak terhingga. Demikianlah ilmu itu berperan mencerahkan sekaligus mencerdaskan kehidupan manusia.

Bisa dibayangkan andai manusia tidak berusaha untuk berpikir dan mencari ilmu pengetahuan, maka bisa jadi manusia akan masuk ke dalam kubangan makhluk laiknya hewan yang hanya mengandalkan hawa nafsu semata. Sampai-sampai menurut para pemikir disebutkan bahwa manusia adalah hewan yang berfikir. Maka di sinilah letak kesempurnaan manusia disbanding makhluk lainnya, di sini pulalah yang membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lainnya, yakn, diberi akal. Dengan akal itulah manusia kemudian didapuk menjadi makhluk yang sempurna yang mengemban amanah khalifah di muka bumi. Dengan akal itu pula yang menjadikan para malaikat diwajibkan bersujud kepada Adam as. pada saat penciptaan manusia pertama.

Sebaliknya, akal manusia yang terlampau sempurna juga menjadi tidak berguna andai tidak dibersamai dengan iman kepada Allah swt. Bahkan menurut Syaikh Az-Zarnuji disebutkan bahwa

sejatinya akal adalah digunakan sebagai sarana menuju ketakwaan kepada Allah swt. yang muaranya adalah kedudukan terhormat di sisi Allah swt. serta keuntungan yang abadi.

Dalam kitabnya, Ta’lim Muta’alim, Syaikh Az-Zarnuji mengutip lengkap sebuah syair dari Muhammad bin Al Hasan bin Abdullah yang diterjemahkan sebagai berikut:

“Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna. Belajarlah ilmu agama yang dapat membimbing menuju kebaikan dan takwa. Ilmu paling lurus untuk dipelajari Dialah ilmu yang menunjukkan jalan yang lurus, yakni petunjuk (Islam). Ia laksana benteng yang dapat menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Oleh karena itu orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara’ lebih berat bagi syaitan daripada menggoda seribu ahli ibadah.

Dari syair tersebut, kita dapat memahami bagaimana ulama pada jaman dahulu begitu gandrung dengan ilmu pengetahuan. Mereka menjadikan hari-hari yang dilewati untuk senantiasa menambah ilmu. Bahkan mereka mengibaratkan mencari ilmu dan hidup dengan ilmu laksana berenang di lautan ilmu.

Dijelaskan pula dalam syair di atas bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu agama. Ilmu yang akan mengantarkan kepada takwa dan meniti jalan yang lurus. Bukankah kita sama-sama mengharapkan segala kebaikan setelah kehidupan dunia? Jika demikian, maka tepat apabila ilmu agama adalah ilmu utama yang wajib dipelajari. Ilmu agama akan memberikan peta kehidupan pasca-kehidupan dunia. Tidak ada rumus menuju kebahagiaan setelah keidupan di dunia selain ilmu yang ada di dalam agama.

Menuju kehidupan yang bahagia tentu tidak mudah, terlebih jika kebahagiaan itu didasarkan pada kebahagiaan menurut agama. Selain karena ada berbagai ketentuan dalam meraih kebahagiaan itu, juga karena adanya godaan syaithan dalam rangka menyesatkan manusia dan mengarahkan pada kesesatan dan kebahagian sementara namun kesengsaraan di akhirat. Namun demikian, seorang ahli ilmu terlebih dengan ilmu yang bermanfaat dan dibarengi dengan akhlak yang mulia, maka itu merupakan ujian berat bagi syaithan dalam menggoda. Bahkan, saking beratnya dalam syair diibaratkan dengan seribu ahli ibadah yang bodoh dan orang berilmu itu lebih berat untuk digoda.

Demikianlah keutamaan ilmu sehingga menjadi sangat penting untuk kita terus belajar. Semoga kita senantiasa dilimpahi ilmu pengetahuan dengan dihiasi iman di dalamnya, Allahu a’lam.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

MAP SEKOLAH

KONTAK

SMA UII Yogyakarta

Jl. Tamansiswo No. 158 , Mergangsan, Kota Yogyakarta

email : info@smauiiyk.sch.id

Telp: (0274) 3900192